Di belakang halaman ini, langit yang sebenarnya melintas pelan — bintang lembut, debu antariksa yang nyaris tak terlihat. Instrumen di bawah membaca langit yang sama lalu menerjemahkannya jadi piksel: kasar, bersuara, dan bisa Anda atur sendiri.
Latar di balik judul dan viewport pixel di bawahnya dijalankan oleh mesin bintang yang sama — hanya diberi wajah berbeda. Latar dirender halus dan senyap; viewport dirender kasar dan bersuara.
Sebagian besar bintang putih-kekuningan, sebagian kecil biru pucat atau jingga pucat — mengikuti cara bintang sungguhan berpendar menurut suhu permukaannya, bukan warna acak.
Suara latar bukan berkas audio, melainkan gelombang sinus dan noise yang disusun langsung di peramban — drone bass, hamparan berkilau, dan ping radar yang muncul sesekali.
Latar belakang memakai koordinat pecahan (bukan piksel tetap) agar tahan diubah ukuran tanpa dihitung ulang, dan resolusi kanvasnya dibatasi — jadi tetap mulus di perangkat yang lebih lemah.
Tidak. Viewport pixel dirender pada resolusi native 192×108px, dan latar hero membatasi resolusinya sendiri berdasarkan ukuran layar — jumlah piksel yang dihitung setiap frame tetap kecil meski tampil besar.
Peramban mengharuskan interaksi pengguna sebelum memutar audio. Tombol suara di pojok viewport memulai konteks Web Audio saat pertama kali disentuh.
Boleh. Unduh berkasnya lewat tombol di atas, lalu sunting bebas — warna, kecepatan, dan tata letak semuanya berupa kode biasa yang mudah diubah.
Ya. Kecepatan hanyut, frekuensi bintang jatuh, dan volume terhubung ke satu keadaan bersama, jadi geserannya berlaku di latar hero dan viewport pixel sekaligus.